Artikel Pilihan

<< >>

Belajar Kaligrafi di Pesantren Kaligrafi LEMKA Sukabumi

Banyak sekali pesantren di Indonesia dengan beragam sistem pendidikan dan pengajaran. Secara umum, mereka memberikan selain pengajaran kurikulum nasional, adalah kurikulum lokal yang dikembangkan oleh para pendiri pesantren, berupa keilmuan keagamaan mulai dari ilmu fikih (ibadah), Al-Qur’an dan Hadis, dan berbagai keilmuan lain. Dalam beberapa tahun belakangan ini, selain munculnya pesantren yang mengajarkan keilmuan keagamaan, [...]

Kemandirian: Itulah yang Diajarkan Pesantren

Hari Jum’at sore, 9 Desember 2011, bertempat di Warung Darmin, di Jalan Duren III, berlangsung peluncuran buku “Virus Entrepreneruship Kyai”, karya Ir. Muhammad Ridlo Zarkasyi, Putra KH. Imam Zarkasyi, pendiri Pondok Modern Gontor. Memang, dari seluruh putra-putri KH. Imam Zarkasyi, Pak Ridlo inilah, begitu beliau biasa dipanggil, yang murni menjadi pengusaha. Kakak-kakaknya sebagian besar meneruskan [...]

Belajar Kaligrafi di Pesantren Kaligrafi LEMKA Sukabumi

1324582806974825143

Bersama Drs. Ohan Jauharuddin, Pengasuh Pesantren Kaligrafi LEMKA

Banyak sekali pesantren di Indonesia dengan beragam sistem pendidikan dan pengajaran. Secara umum, mereka memberikan selain pengajaran kurikulum nasional, adalah kurikulum lokal yang dikembangkan oleh para pendiri pesantren, berupa keilmuan keagamaan mulai dari ilmu fikih (ibadah), Al-Qur’an dan Hadis, dan berbagai keilmuan lain.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, selain munculnya pesantren yang mengajarkan keilmuan keagamaan, juga mulai muncul beberapa pesantren yang mempelajari keterampilan khusus, selain keilmuan keagamaan tersebut. Beberapa jika disebut di antaranya adalah pesantren dengan keterampilan pertanian, perkebunan, perikanan, dan berbagai keterampilan lain.

Salah satu yang patut dicatat, adalah sebuah pesantren di wilayah Sukabumi, yang mengkhususkan diri mengajarkan KALIGRAFI (menulis huruf Arab). Pesantren ini bernama Pesantren LEMKA, singkatan dari LEMBAGA KALIGRAFI AL-QUR’AN. Pesantren ini didirikan oleh Drs KH Didin Sirojuddin AR, M.Ag, Pelukis Kaligrafi tingkat Nasional dan Internasional.

13245829581884037588

Dinding Asrama yang Penuh Lukisan Kaligrafi

Keunikan pesantren ini tentu saja adalah kekhususannya dalam mengajarkan KALIGRAFI. Program pendidikannya dilakukan selama satu tahun, di mana santrinya diajarkan bagaimana mengembangkan tulisan kaligrafinya dengan berbagai bentuk.

Para santri diajarkan tulisan kaligrafi mulai dari dasar. Mereka dikenalkan berbagai bentuk tulisan, menurut kaidah yang benar. Dengan demikian, mereka diajarkan untuk menulis Arab indah sesuai dengan kaidah yang berlaku di seluruh dunia. Belajar kaidah standar ini penting agar mereka mempunyai kemampuan yang sama dengan berbagai seniman kaligrafi di seluruh dunia. Sehingga, saat ada lomba kaligrafi, mereka bisa mengikuti dengan baik.

1324583090818057946

Berpose di antara salah satu karya santri

Keunikan dari lulusan Pesantren LEMKA ini memang menarik. Mereka biasanya merupakan utusan dari daerah masing-masing. Sehingga, setiap pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional, banyak pesertanya merupakan lulusan Pesantren LEMKA.

Selain diajarkan program penulisan dasar, program pendidikan yang harus ditempuh dalam waktu 1 tahun ini juga mengajarkan melukis kaligrafi di berbagai media, misalnya dalam bentuk lukisan kanvas, ataupun dalam bentuk kaligrafi dinding. Kaligrafi di atas media kanvas berguna sebagai kaligrafi lukisan, sedangkan kaligrafi dinding, selain untuk tulisan di rumah, biasanya digunakan untuk hiasan dinding musholla atau masjid. Artinya, lulus dari Pesantren LEMKA diharapkan bisa membuat kaligrafi dengan berbagai media yang ada.

Peserta program pendidikan Pesantren Lemka ini memang berasal dari berbagai daerah. Banyak dari mereka yang memang ingin memperdalam kaligrafi secara individu. Tetapi banyak juga yang merupakan utusan dari Lembaga Pendidikan, Pesantren, atau Pemerintah Daerah tertentu yang memang diharapkan setelah selesai pendidikan, mampu menjadi guru di pesantrennya, dan mengembangkan ilmu kaligrafi yang dimilikinya di lembaga pendidikan tempatnya mengajar.

13245832361930849428

Peralatan yang lengkap

Peralatan di sini cukup lengkap. Mulai dari pena khusus standar MTQ nasional dan internasional, yang terbuat dari batang pohon khusus beserta tintanya, kanvas, cat, kuas, buku-buku, dan semua yang dibutuhkan terkait kaligrafi.

Dalam bahasa saya, inilah yang disebut cinta dengan pekerjaan dan apa yang kita lakukan. Kecintaan Drs. Didin Sirojuddin, AR diwujudkan melalui lembaga pendidikan yang telah melahirkan banyak sekali kaligrafer nasional ini. Cinta, akan memberi jalan keluar. Cinta akan menjadikan kerja-kerja kita menjadi spektakuler. Karena itu, BEKERJALAH DENGAN CINTA (Akbar Zainudin, 10 Jalan Sukses, Jakarta: Mizania, hal. 45).

Saya juga tidak tahan untuk mencoba pena dan tinta khusus ini. Pena ini terbuat dari batang pohon yang ujungnya sudah dipotong untuk membentuk huruf kaligrafi. Pena ini belum bertinta, karena itu, saat kita mau menulis, barulah kita celupkan pena ini ke tintanya.

13245832932003905900

Mencoba Menulis Kaligrafi di Atas Kertas dengan Tinta Khusus

Saya mencoba goresan pertama. Dulu saya juga sempat belajar kaligrafi, tetapi memang menggunakan pena yang sudah dipotong dan ada tintanya. Ini pertama kali saya menggunakan pena dari batang pohon. Yang ada di bayangan saya, itu seperti di film-film kerajaan China dan Jepang zaman dahulu, di mana mereka juga menggunakan pena dan tinta yang serupa. Mereka mencelupkan pena tersebut ke tinta baru kemudian menuliskannya.

Kalimat favorit saya tentu saja “man jadda wajada”. Saya masih ingat bagaimana memulai huruf “mim” pada kata “man”. Tetapi, saat menggoreskan huruf “wau”, saya mulai lupa-lupa ingat bagaimana memulainya. Dan akhirnya, kalimat itu bisa selesai dengan sempurna.

Kalimat kedua yang saya tulis adalah “man shabara dzafira”. Yang artinya, siapa yang bersabar, ia akan beruntung. Dan kalimat ketiga yang saya tulis adalah “man saara ‘ala ad-darby washala”. Yang artinya siapa yang berjalan pada jalannya, ia akan sampai. Tiga kata mutiara Bahasa Arab ini memang favorit di antara sekian kata mutiara Bahasa Arab yang diajarkan di berbagai pesantren.

Nah, inilah hasilnya. Jadi pengin belajar kaligrafi lagi secara mendalam.

1324583355604360275

Inilah hasilnya; lumayan juga, ternyata....

PESANTREN KALIGRAFI AL-QUR’AN LEMKA

Jln. Bhineka Karya no. 53 Rt. O3/06, Kelurahan Karamat, Keacamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Indonesia 43122

Telp./fax : (0266) 231 754

Email : lemkaonline@gmail.com

Salam Man Jadda Wajada,

13245836141286089511

Email: akbar.zainudin@gmail.com

Facebook: Akbar Zainudin

Twitter: @akbarzainudin

Penulis Buku-Buku Motivasi:

1. Man Jadda Wajada: The Art of Excellent Life, (Jakarta: Gramedia, 2010. Cetakan Ke-7, 2011)

2. Man Jadda Wajada2: Buka Pintu-Pintu Keberhasilan Anda (Jakarta: Gramedia, 2011. Cetakan Ke-2, 2011)

3. 10 Jalan Sukses: Menghidupkan Prinsip Man Jadda Wajada (Jakarta: Mizania, 2011. Cetakan Pertama)

Kemandirian: Itulah yang Diajarkan Pesantren

1323552014362479663

Peluncuran Buku

Hari Jum’at sore, 9 Desember 2011, bertempat di Warung Darmin, di Jalan Duren III, berlangsung peluncuran buku “Virus Entrepreneruship Kyai”, karya Ir. Muhammad Ridlo Zarkasyi, Putra KH. Imam Zarkasyi, pendiri Pondok Modern Gontor. Memang, dari seluruh putra-putri KH. Imam Zarkasyi, Pak Ridlo inilah, begitu beliau biasa dipanggil, yang murni menjadi pengusaha. Kakak-kakaknya sebagian besar meneruskan jejak Bapaknya, menjadi pengasuh pesantren dan akademisi.

Mendengar kata entrepreneurship, atau kewirausahaan, tentu yang terbayang di pikiran kita adalah orang-orang yang mengembangkan berbagai usaha di banyak bidang. Mereka adalah pengusaha, yang membuka pabrik, berdagang, ataupun mengembangkan usaha lain.

Nah, menariknya, semangat kewirausahaan ini ternyata juga tumbuh di kalangan pesantren, terutama pesantren Gontor. Menurut Prof. Dr. Dawam Raharjo, salah seorang pembahas sore itu, sosok seorang Kyai adalah sosok social entrepreneur, atau yang sering disebut sebagai wirausahawan sosial.

Seorang wirausahawan sosial ala Kyai adalah orang-orang yang mampu menularkan semangat wirausaha kepada para santri dan masyarakat sekitar, sehingga mereka mau menjadi wirausahawan. Para Kyai mengembangkan berbagai usaha di lingkungan sekitar pesantren sehingga kemajuan pondok tidak hanya dirasakan oleh santri, tetapi juga berimbas pada masyarakat sekitar.

Nah, semangat yang diwariskan oleh seorang Kyai adalah semangat untuk HIDUP MANDIRI. Pesantren mengajarkan berbagai keterampilan hidup agar santri bisa membangun hidupnya sendiri. Pesantren mengajarkan agar orang bisa hidup MANDIRI. Kemandirian inilah yang sebenarnya menjadi sikap mental dasar yang penting untuk menopang hidup seseorang menjadi pengusaha.

Karena itulah, bahkan sikap KH Imam Zarkasyi sendiri terlihat agak ekstrim terhadap orang-orang yang hidup sebagai pegawai. Mungkin, kata Prof. Dawam, hal itu sebagai akibat pada zaman dahulu agak sulit bagi alumni pesantren, termasuk Gontor, untuk menjadi pegawai. Tetapi zaman sudah berubah sekarang, di mana surat keterangan lulus dari pesantren sudah bisa digunakan untuk mendaftar ke perguruan tinggi.

Tetapi yang lebih penting dari itu semua, adalah sikap kemandirian yang dimiliki oleh kalangan pesantren adalah sikap dasar yang memang harus dimiliki setiap orang. Sikap kemandirian ini menjadi faktor mendasar yang bisa memunculkan keberanian mulai usaha.

Faktor lain yang diajarkan pesantren, khususnya Gontor, menurut Hamid Husein, pemilik Indo Noni, perusahaan obat herbal berbasis mengkudu, adalah sikap disiplin yang sangat kuat. Selain pesantren, tidak ada orang diajarkan disiplin untuk bangun pagi mulai sekitar jam 03.00, makan dan mandi antri, dan tidak boleh terlambat masuk kelas, berangkat ke masjid, dan berbagai hal lain yang sudah dibatasi. Disiplin inilah yang membentuk mentalitas seseorang agar kuat menghadapi berbagai masalah dan cobaan.

Hal kedua yang diajarkan pesantren, khususnya Gontor adalah kejujuran dan menjaga integritas. Orang tidak bisa untuk hidup dan bekerjasama dalam waktu lama jika tidak didasarkan atas kejujuran. Kejujuran adalah kunci menuju keberhasilan masa depan.

Hal ketiga yang diajarkan adalah berani memulai, terus bekerja dengan baik, hingga akhirnya menimbulkan prestasi yang terus maju dan berkembang. Jangan pernah berhenti berkreasi, karena kreativitas kita itulah yang akan membuat orang mau menggunakan produk atau jasa kita, sekaligus menjadi pembeda dan keunggulan bersaing kita dengan produk atau jasa orang lain.

Buat para santri yang masih di pesantren, atau kawan-kawan yang sudah lulus, sikap mental MANDIRI ini bisa menjadi modal utama untuk kita melangkah selanjutnya. Tinggal bagaimana menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.

Sikap mental KEMANDIRIAN itulah, yang menjadi salah satu tema utama buku “Virus Entrepreneurship Kyai ini. Tinggal bagaimana para alumninya mampu berbuat lebih banyak dengan landasan sikap mental ini, untuk berusaha dengan segala kemampuan masing-masing, memberi kontribusi bagi bangsa dan negara

Jadi, tidak perlu khawatir kalau saat ini melamar pekerjaan susah, apalagi jadi pegawai negeri. Karena para santri dibekali sikap mental kemandirian. Tinggal bagaimana, dengan semangat “Man Jadda Wajada”, dan modal “Yahanu” (Percaya diri ala Pondok), kita bisa memulai usaha untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan.

Salam Man Jadda Wajada


 

 

 

Penulis buku-buku motivasi:

 

  1. Man Jadda Wajada: The Art of Excellent Life (Gramedia: Jakarta, 2010)
  2. Man Jadda Wajada2: Buka Pintu-Pintu Keberhasilan Anda (Gramedia: Jakarta, 2011)
  3. 10 Jalan Sukses: Menghidupkan Prinsip Man Jadda Wajada (Mizania: Jakarta, 2011)

Masjid Tertua: Masjid Saka Tunggal, Banyumas

 

13201990941366682854

Masjid Saka Tunggal

Saya selalu menyukai bangunan bersejarah, terutama masjid. Ada salah satu masjid tua, bahkan mungkin salah satu masjid tertua di Indonesia yang sempat saya kunjungi beberapa saat lalu, kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal saya di kampung. Namanya Masjid Saka Tunggal, lengkapnya Masjid Saka Tunggal Baitussalam, yang terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Dinamakan masjid Saka Tunggal karena memang di tengah-tengah masjid hanya terdapat 1 tiang. Kata “Saka”, berasal dari bahasa Jawa, yang artinya “tiang”, dan kata “Tunggal”, artinya satu. Saat memasuki masjid, tiang ini memang terpancang kuat di tengah-tengah masjid. Agar terlindungi, tiang ini sekarang dikelilingi oleh kaca, sehingga pengunjung tidak bisa menyentuh langsung kayu yang menjadi bahan tiang.

13201994071695130682

Satu Tiang-Saka Tunggal

Namun demikian, karena kaca ini transparan, pengunjung bisa melihat berbagai corak ukiran kayu yang mengelilingi tiang, dan juga beberapa informasi penting menyangkut masjid. Salah satu informasi pentingnya adalah tentang tahun pendirian masjid. Pada salah satu sudut tiang tertulis, bahwa masjid ini didirikan tahun 1288 M. Jika tahun pendirian ini benar adanya, maka Masjid Saka Tunggal bisa dikatakan sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia.

Sebelum memasuki kawasan masjid, di tengah-tengah jalan banyak sekali monyet-monyet kecil yang berkeliaran di sekitar, meminta makanan dan minuman dari para pengunjung. Karena itulah, di pintu masuk, disediakan kacang yang bisa dibeli pengunjung untuk memberi makan monyet-monyet tersebut.

Monyet-monyet ini terlihat jinak. Tetapi memang kantong plastik tempat kacang goreng jangan terlalu lama dipegang. Salah-salah, karena tidak sabaran menunggu kacang yang dilempar, monyet-monyet ini menyerbu untuk merebut kantong kacang yang kita pegang.

Masjid ini terdiri dari beberapa ruang. Halaman masjid cukup luas untuk menampung beberapa kendaraan. Di depan halaman masjid, terdapat ruang wudhu dan kamar mandi yang terlihat cukup modern. Bangunan masjid sendiri masih menyisakan rasa sebagai bangunan kuno, dengan kayu-kayu yang memenuhi dinding-dinding masjid.

Nah, saat memasuki ruang utama Masjid, terasa sejuk karena memang bangunannya terdiri dari banyak kayu, dengan ventilasi yang memadai. Beduk masjid ada di bagian samping, sehingga saat bedug itu ditabuh pada saat waktu sholat tiba, terdengar kuat.

Ruang Imam dan mimbar untuk khutbah menempati ruangan tersendiri, dan ditutup kain, mungkin untuk menjaga agar tidak berdebu. Sholat dan beribadah di masjid ini, terasa suasana mistik-spiritual yang sangat kental.

Salah satu tradisi penting dalam masjid Saka Tunggal ini adalah ritual Ganti Jaro Rajab. Ritual ini adalah ritual mengganti pagar bambu yang mengelilingi masjid dan juga mengelilingi makam Nyai Toleh, salah seorang penyebar agama Islam di wilayah Banyumas.

Pada ritual ini, masyarakat sekitar membawa bambu untuk menggantikan bambu lama yang ada di Masjid. Mereka berjalan beriringan menuju masjid, tidak boleh bersuara, tidak memakai alas kaki, hanya sesekali suara bambu terdengar karena dibawa bersamaan. Hingga sampailah mereka ke pagar lama, mencabuti pagar tersebut, dan menggantinya dengan yang baru.

Mirip dengan tradisi keraton, pada upacara ini juga ada gunungan yang berupa nasi tumpeng dan lauk pauknya. Gunungan ini pada akhir upacara menjadi rebutan masyarakat karena dipercaya membawa berkah bagi masyarakat sekitar.

Ritual ini diadakan selain sebagai rasa syukur, juga memupuk kebersamaan dan kegotongroyongan di antara masyarakat. Diyakini juga, ritual ini juga menghilangkan berbagai sifat jahat dan jelek dalam diri manusia. Sayang, saat saya berkunjung, ritual Ganti Jaro Rojab ini sedang tidak dilaksanakan. Saya hanya mendapatkan cerita dari pengelola masjid ini.

Jadi, saat Anda melintas dari Ajibarang menuju Wangon, di Kabupaten Banyumas, sempatkan untuk melihat masjid ini. Berdzikir dan sholat di sini akan memberikan nuansa spiritual yang berbeda.

Salam Man Jadda Wajada,

AKBAR ZAINUDIN

Penulis Buku-Buku Motivasi:

  1. Man Jadda Wajada: The Art of Excellent Life (Jakarta: Gramedia, 2010)
  2. Man Jadda Wajada2: Buka Pintu-Pintu Keberhasilan Anda (Jakarta: Gramedia, 2011)
  3. 10 Jalan Sukses (Akan terbit November 2011)

Rumah Tinggal Kita, Kesyukuran Kita

13184773321240223357

Kawasan Kumuh Bukit Duri, Jakarta

Beberapa saat yang lalu, saya menelusuri salah satu lingkungan paling kumuh di wilayah Jakarta. Tepatnya di kawasan bantaran sungai di sekitar anak kali Ciliwung di wilayah Bukit Duri, Jakarta Pusat. Ternyata, di antara kemegahan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, masih terdapat perkampungan kumuh yang sangat memprihatinkan.

Kebanyakan rumah-rumah tersebut dindingnya terbuat dari triplek, atau kayu-kayu bekas. Tidak ada jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain. Saling berdekatan, berhimpitan. Karena rumah-rumah itu berdiri di atas bantaran sungai, seperti rumah panggung di daerah Sumatera sana, pondasi rumah itu didirikan di atas panggung yang terbuat dari beton. Bedanya, kalau di Sumatera dan Sulawesi sana rumah panggung di bawahnya bisa digunakan untuk ruang tamu, garasi, atau gudang, di kawasan perkampungan ini, di bawah panggung itu adalah sungai yang hitam pekat karena kotoran, sampah, dan limbah yang padat.

Memasuki gang-gang sempit di kawasan tersebut, sampah-sampah sisa makanan bertebaran di sepanjang jalan, seakan orang tidak lagi peduli dengan kebersihan dan kesehatan mereka. Bau busuk dari sekitar sungai dan lalat-lalat yang beterbangan menjadi pemandangan sehari-hari, tidak lagi menjadi beban buat mereka. Mereka sudah sangat terbiasa dengan keadaan itu.

Beruntung, mereka mendapatkan bantuan fasilitas air bersih dari Pemerintah. Pemerintah membangun sarana MCK dan air bersih yang digunakan bergantian oleh warga di sekitar kawasan tersebut. Setidaknya, untuk memasak, mencuci, makan, dan minum mereka bisa mendapatkan air bersih yang “wajar”, tidak harus menggunakan air sungai yang kotor dan keruh. Mereka juga mendapatkan saluran listrik dari PLN, walaupun tidak ada sertifikat tanah dan tempat tinggal di sana. Dengan demikian, penerangan dan listrik bisa mereka dapatkan.

Bukan itu saja, di saat banjir atau air dari sungai Ciliwung meluap, mereka adalah orang yang pertama merasakan kebanjiran. Walaupun rumah mereka diusahakan tinggi, tetap saja jika air meluap, rumah mereka kebanjiran. Air masuk rumah, membawa berbagai kotoran sungai yang luar biasa joroknya. Dan kejadian itu, terutama saat musim hujan merupakan kejadian “rutin” yang harus dihadapi.

Saya tidak bisa membayangkan, betapa banyak di antara kita, pasti tidak akan kuat hidup di tengah-tengah suasana kumuh dan kotor seperti itu. Terkadang, kotor atau bau sedikit saja, kita sudah menyingkir dan mencari tempat lain. Bayangkan bagaimana mereka karena “saking” terbiasanya sehingga tidak lagi menjadikan hal itu sebagai beban.

Ironisnya, seringkali betapapun kita sudah tinggal di tempat tinggal yang memadai, masih saja sehari-harinya kita memenuhi kehidupan kita dengan berbagai keluhan. Mengeluh bahwa kurang inilah-kurang itulah, seakan-akan hidup tidak pernah cukup dengan apa yang kita miliki sekarang.

Memang hidup tidak akan pernah cukup, tetapi hal itu sangat tergantung pada bagaimana kita memaknai hidup itu sendiri. Rasa syukurlah yang akan menjadikan hidup kita menjadi cukup. Bukan banyaknya uang dan materi yang menjadikan kita cukup, tetapi pikiran dan perasaan kitalah yang mengendalikan perasaan kecukupan tersebut.

Jika kita masih ngontrak atau menyewa rumah, tetap penuhi diri kita dengan penuh kesyukuran, bahwa kita masih bisa diberi kenikmatan untuk tidur dan hidup di tempat yang bersih. Kesyukuran itulah yang akan membawa kita pada upaya untuk terus bekerja keras. Nah, dengan demikian, ada harapan bahwa rezeki kita akan ditambah.

Bagi yang sudah mempunyai rumah tinggal, sekecil apapun rumah tersebut, sejelek apapun kondisinya, mestilah tetap hidup ini dipenuhi dengan rasa syukur. Kesyukuran kitalah yang rasanya akan memberikan gairah hidup dan kebahagiaan yang besar, yang pada akhirnya menyiapkan diri untuk memperoleh nikmat yang lebih banyak.

Semakin dalam kita bersyukur, artinya semakin siap kita mendapatkan nikmat yang lebih besar. Karena Allah selalu menguji kita, dengan apa yang kita punya sekarang, apakah bertambah kedekatan dan kepasrahan diri kita kepada Allah, atau malah justru menjauhkan diri kita dari-Nya.

Jawaban atas ujian itu ada pada diri kita masing-masing, dan itulah selaras dengan janji Allah. Saat kita tambah syukur dan berserah, Allah akan tambahkan rezeki buat kita. Sebaliknya, jika apa yang kita miliki menjadikan kita sombong dan menjauhkan diri dariNya, artinya, kita tidak lulus dari ujian yang diberikan kepada kita…..

Salam Man Jadda Wajada,

AKBAR ZAINUDIN

Penulis Buku-Buku Motivasi:

  1. Man Jadda Wajada: The Art of Excellent Life (Jakarta: Gramedia, 2010)
  2. Man Jadda Wajada2: Buka Pintu-Pintu Keberhasilan Anda (Jakarta: Gramedia, 2011)
  3. 10 Jalan Sukses (Jakarta: Kaifa, akan terbit Oktober 2011)

Kok Mau Naik di Atas Gerbong Kereta?

13178114301202812559

Naik di Atas Gerbong, Menantang Maut

Stasiun Manggarai, pagi hari. Ribuan orang hilir mudik, lalu lalang. Ada yang turun dari kereta, ada pula yang naik. Semua bergegas. Di antara bangku-bangku tempat menunggu, calon penumpang duduk sambil mengerjakan berbagai aktivitas. Ada yang membaca koran, ketawa-ketiwi sendiri membaca bbm atau sms, ada pula yang merokok menikmati suasana. Semua tumpah ruah dalam aktivitas pagi yang rutin. Ya, masing-masing menikmati rutinitas yang dilakukan terus menerus setiap pagi.

Berbagai gerbong kereta, dari kelas ekonomi, bisnis, hingga kelas eksekutif yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat saling bergantian memenuhi stasiun. Para penumpang naik turun, waktu seakan berjalan begitu cepat sehingga setiap orang terlihat tergesa-gesa untuk naik ataupun turun dari kereta. Tetapi begitulah yang terjadi, seakan semua orang memburu waktu, agar tidak tertinggal.

Tiba-tiba, pandangan hal-hal positif yang saya lihat tidak berlangsung lama. Dari arah luar kota Bekasi, muncul kereta komuter yang menghubungkan Jakarta Bogor, Bekasi, dan juga Tangerang. Bukan kemunculannya yang mengagetkan saya, tetapi di atas gerbong kereta ekonomi itu, tetap saja ada gerombolan orang yang naik di atap gerbong kereta. Menurut pengelola stasiun, berbagai cara sudah dilakukan pengelola agar para penumpang tidak lagi naik atap kereta.

Mulai dari razia dan penurunan penumpang yang masih nekat naik di atap gerbong, memasang papan agar para penumpang yang naik terkena papan tersebut, pernah juga dipasang penyemprot cat, di mana penyemprot cat otomatis ini akan mengeluarkan cat kepada para penumpang. Semuanya gagal total. Alat-alat tersebut bahkan secara sengaja dirusak oleh para penumpang, agar keesokan harinya bisa lagi naik di atas gerbong kereta.

Memang kalau dirunut, banyak sekali penyebab mengapa orang-orang ini tetap membandel untuk naik di atas gerbong kereta. Coba kita lihat satu per satu penyebabnya.

Penyebab pertama, ini yang menjadi alasan banyak penumpang sekarang, yaitu kapasitas gerbong yang tidak memadai. Mereka bilang, di dalam gerbong tidak lagi ada tempat yang cukup. Jangankan duduk, untuk berdiripun mereka susah mendapatkan tempat. Karena itulah, mereka memilih untuk naik di atas gerbong agar segera berangkat tepat waktu sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Alasan ini mungkin memang masuk akal. Betapa kebutuhan untuk alat transportasi massal ini memang sangat besar, di kota-kota besar, terutama Jakarta. Tetapi kemampuan Pemerintah menyediakan alat transportasi massal ini memang masih jauh dari harapan. Tetapi bagaimanapun keadaannya, buat saya tetaplah tidak bisa menjadi alasan bagi mereka untuk mempertaruhkan nyawa dengan menumpang di atas gerbong.

Nah, alasan kedua adalah orang-orang yang naik di atas gerbong memang cenderung ingin mencoba sensasi baru yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan. Mereka merasakan sesuatu yang berbeda saat berada di atas gerbong. Nah, sensasi yang menggelegakkan adrenalin itulah yang membuat mereka kecanduan. Sehingga, apapun mereka lakukan agar mereka tetap merasakan candu tersebut, termasuk melempari petugas yang menghalau mereka, dan merusak segala macam alat yang digunakan agar mereka mau turun dari atas gerbong.

Dan tentu saja, apapun alasannya, menumpang di atas gerbong adalah gambaran betapa lemahnya disiplin dan budaya keselamatan yang kita miliki. Tidak hanya di kereta, di jalananpun kita lihat betapa banyak orang saling serobot antara satu dengan yang lain, mengabaikan keselamatan akan kehidupan yang mereka miliki.

Padahal, disiplin adalah kunci untuk masa depan kita. Saat kita tidak mempunyai disiplin, jangan harap masa depan mau mendekat kepada kita. Disiplin adalah kunci keberhasilan, tidak bisa ditawar-tawar. Jadi, apapun pekerjaan kita, di manapun kita bekerja, mulailah belajar berdisiplin lebih tinggi.

Penulis Buku-Buku Motivasi:

  1. Man Jadda Wajada: The Art of Excellent Life (Jakarta: Gramedia, 2010)
  2. Man Jadda Wajada2: Buka Pintu-Pintu Keberhasilan Anda (Jakarta: Gramedia, 2011)
  3. 10 Jalan Sukses: Menghidupkan Kembali Semangat Man Jadda Wajada (Jakarta: Kaifa, akan terbit tengah Oktober 2011)