
Bersama Drs. Ohan Jauharuddin, Pengasuh Pesantren Kaligrafi LEMKA
Banyak sekali pesantren di Indonesia dengan beragam sistem pendidikan dan pengajaran. Secara umum, mereka memberikan selain pengajaran kurikulum nasional, adalah kurikulum lokal yang dikembangkan oleh para pendiri pesantren, berupa keilmuan keagamaan mulai dari ilmu fikih (ibadah), Al-Qur’an dan Hadis, dan berbagai keilmuan lain.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, selain munculnya pesantren yang mengajarkan keilmuan keagamaan, juga mulai muncul beberapa pesantren yang mempelajari keterampilan khusus, selain keilmuan keagamaan tersebut. Beberapa jika disebut di antaranya adalah pesantren dengan keterampilan pertanian, perkebunan, perikanan, dan berbagai keterampilan lain.
Salah satu yang patut dicatat, adalah sebuah pesantren di wilayah Sukabumi, yang mengkhususkan diri mengajarkan KALIGRAFI (menulis huruf Arab). Pesantren ini bernama Pesantren LEMKA, singkatan dari LEMBAGA KALIGRAFI AL-QUR’AN. Pesantren ini didirikan oleh Drs KH Didin Sirojuddin AR, M.Ag, Pelukis Kaligrafi tingkat Nasional dan Internasional.

Dinding Asrama yang Penuh Lukisan Kaligrafi
Keunikan pesantren ini tentu saja adalah kekhususannya dalam mengajarkan KALIGRAFI. Program pendidikannya dilakukan selama satu tahun, di mana santrinya diajarkan bagaimana mengembangkan tulisan kaligrafinya dengan berbagai bentuk.
Para santri diajarkan tulisan kaligrafi mulai dari dasar. Mereka dikenalkan berbagai bentuk tulisan, menurut kaidah yang benar. Dengan demikian, mereka diajarkan untuk menulis Arab indah sesuai dengan kaidah yang berlaku di seluruh dunia. Belajar kaidah standar ini penting agar mereka mempunyai kemampuan yang sama dengan berbagai seniman kaligrafi di seluruh dunia. Sehingga, saat ada lomba kaligrafi, mereka bisa mengikuti dengan baik.

Berpose di antara salah satu karya santri
Keunikan dari lulusan Pesantren LEMKA ini memang menarik. Mereka biasanya merupakan utusan dari daerah masing-masing. Sehingga, setiap pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional, banyak pesertanya merupakan lulusan Pesantren LEMKA.
Selain diajarkan program penulisan dasar, program pendidikan yang harus ditempuh dalam waktu 1 tahun ini juga mengajarkan melukis kaligrafi di berbagai media, misalnya dalam bentuk lukisan kanvas, ataupun dalam bentuk kaligrafi dinding. Kaligrafi di atas media kanvas berguna sebagai kaligrafi lukisan, sedangkan kaligrafi dinding, selain untuk tulisan di rumah, biasanya digunakan untuk hiasan dinding musholla atau masjid. Artinya, lulus dari Pesantren LEMKA diharapkan bisa membuat kaligrafi dengan berbagai media yang ada.
Peserta program pendidikan Pesantren Lemka ini memang berasal dari berbagai daerah. Banyak dari mereka yang memang ingin memperdalam kaligrafi secara individu. Tetapi banyak juga yang merupakan utusan dari Lembaga Pendidikan, Pesantren, atau Pemerintah Daerah tertentu yang memang diharapkan setelah selesai pendidikan, mampu menjadi guru di pesantrennya, dan mengembangkan ilmu kaligrafi yang dimilikinya di lembaga pendidikan tempatnya mengajar.

Peralatan yang lengkap
Peralatan di sini cukup lengkap. Mulai dari pena khusus standar MTQ nasional dan internasional, yang terbuat dari batang pohon khusus beserta tintanya, kanvas, cat, kuas, buku-buku, dan semua yang dibutuhkan terkait kaligrafi.
Dalam bahasa saya, inilah yang disebut cinta dengan pekerjaan dan apa yang kita lakukan. Kecintaan Drs. Didin Sirojuddin, AR diwujudkan melalui lembaga pendidikan yang telah melahirkan banyak sekali kaligrafer nasional ini. Cinta, akan memberi jalan keluar. Cinta akan menjadikan kerja-kerja kita menjadi spektakuler. Karena itu, BEKERJALAH DENGAN CINTA (Akbar Zainudin, 10 Jalan Sukses, Jakarta: Mizania, hal. 45).
Saya juga tidak tahan untuk mencoba pena dan tinta khusus ini. Pena ini terbuat dari batang pohon yang ujungnya sudah dipotong untuk membentuk huruf kaligrafi. Pena ini belum bertinta, karena itu, saat kita mau menulis, barulah kita celupkan pena ini ke tintanya.

Mencoba Menulis Kaligrafi di Atas Kertas dengan Tinta Khusus
Saya mencoba goresan pertama. Dulu saya juga sempat belajar kaligrafi, tetapi memang menggunakan pena yang sudah dipotong dan ada tintanya. Ini pertama kali saya menggunakan pena dari batang pohon. Yang ada di bayangan saya, itu seperti di film-film kerajaan China dan Jepang zaman dahulu, di mana mereka juga menggunakan pena dan tinta yang serupa. Mereka mencelupkan pena tersebut ke tinta baru kemudian menuliskannya.
Kalimat favorit saya tentu saja “man jadda wajada”. Saya masih ingat bagaimana memulai huruf “mim” pada kata “man”. Tetapi, saat menggoreskan huruf “wau”, saya mulai lupa-lupa ingat bagaimana memulainya. Dan akhirnya, kalimat itu bisa selesai dengan sempurna.
Kalimat kedua yang saya tulis adalah “man shabara dzafira”. Yang artinya, siapa yang bersabar, ia akan beruntung. Dan kalimat ketiga yang saya tulis adalah “man saara ‘ala ad-darby washala”. Yang artinya siapa yang berjalan pada jalannya, ia akan sampai. Tiga kata mutiara Bahasa Arab ini memang favorit di antara sekian kata mutiara Bahasa Arab yang diajarkan di berbagai pesantren.
Nah, inilah hasilnya. Jadi pengin belajar kaligrafi lagi secara mendalam.

Inilah hasilnya; lumayan juga, ternyata....
PESANTREN KALIGRAFI AL-QUR’AN LEMKA
Jln. Bhineka Karya no. 53 Rt. O3/06, Kelurahan Karamat, Keacamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Indonesia 43122
Telp./fax : (0266) 231 754
Email : lemkaonline@gmail.com
Salam Man Jadda Wajada,

Email: akbar.zainudin@gmail.com
Facebook: Akbar Zainudin
Twitter: @akbarzainudin
Penulis Buku-Buku Motivasi:
1. Man Jadda Wajada: The Art of Excellent Life, (Jakarta: Gramedia, 2010. Cetakan Ke-7, 2011)
2. Man Jadda Wajada2: Buka Pintu-Pintu Keberhasilan Anda (Jakarta: Gramedia, 2011. Cetakan Ke-2, 2011)
3. 10 Jalan Sukses: Menghidupkan Prinsip Man Jadda Wajada (Jakarta: Mizania, 2011. Cetakan Pertama)
